Nikah Di Usia Muda, Why Not?

NIKAH, kata yang diidam-idamkan setiap insan. Impian bagi mereka yang berhasrat mengadu hidup dalam bahtera kasih sayang. Memadu cinta bersama sang terkasih dalam hiruk pikuk kehidupan.
Nikah, adalah cita-cita. Ya itu yang setidaknya mereka ucapkan, ketika mereka melulu berbicara cinta. Ia bagaikan puncak pendakian tertinggi hidup, lagi-lagi ketika pasangan hidup melulu dibahas dalam keseharian.
Nikah, terkadang tersekat dalam dua kata. Kapan? Dan dengan siapa? Dua misteri yang sama misteriusnya dengan rezeki dan ajal. Namun ia selalu mengundang penasaran, mendatangkan beribu kecemasan. Ketika ia tak kunjung menyapa.
Ada yang begitu berhasrat, memburu si nikah. Ia begitu bersemangat mencari siapa dan kapan ia dihelat. Hari-harinya tak terlepas dari urusan nikah, tanpa pernah sekalipun mempersiapkannya. Tak sedikit pun.
Ada pula yang cuek, acuh tak acuh. Seolah tak perduli. Namun ia sejatinya telah siap, baik lahir maupun batin. Namun ia menghindari jebakan hawa nafsu, terkungkung dalam birahi yang terkadang berkoalisi dengan setan. Dalam sebentuk ungkapan, pacaran. Yang terkadang berbalut perzinahan.
Bicara cinta, berarti bicara tentang anugerah Allah. Karunia yang harus dijaga, dalam kesuciannya yang sejati. Namun ketika ia menyapa begitu kuat, apakah ia harus diabaikan begitu saja? Apakah harus memalingkan diri? Melepaskan diri, sementara ada sisi lain dari jiwa yang tak mampu berlepas dari hal itu.
Adalah Muhammad Alvin Faiz, 17, putera seorang dai kondang—Arifin Ilham—yang menikah dengan Larissa Chou. Ia mengejutkan banyak pihak, ketika memutuskan untuk menikah di usia yang mayoritas orang sebut sebagai ‘anak bau kencur’. Anak kemarin sore. Dan beribu istilah lainnya yang intinya meremehkan pemuda.
Alvin mendobrak pakem mayoritas masyarakat kita yang seolah-olah mendewakan dunia, dengan memberi berbagai syarat bagi anak-anaknya jika ingin menikah. Harus kerja lah, penghasilan minimal segini lah, punya rumah lah, punya kendaraan lah, minimal sarjana lah, keturunan anu lah, mas kawin segini lah, nikah di gedung lah, dan ‘lah lah’ lainnya yang ternyata bukanlah syarat sah sebuah pernikahan.
Alvin menyempurnakan setengah din-nya, karena menurutnya itu lebih baik. Alvin ingin menjaga hasrat alami anugerah sang pencipta secara syar’i, menikah. Ia sangat takut akan pergaulan bebas di zaman ini. Alvin lebih takut kepada adzab Allah, ketimbang takut dicemooh banyak orang karena dia masih belia.
“Jika telah nampak perbuatan zina dan riba pada sebuah negeri,sungguh mereka telah menghalalkan diri mereka mendapatkan adzab Allah.” (HR. al-Hakim, ath-Thabrani dan dishahihkan oleh Syaikh Al-Albani di dalam Shahiihul Jamii’)
Takut lah akan dosa zina, segera lah menikah. Nikah Muda, Why Not? []
https://www.islampos.com/nikah-muda-not-294917/

Subscribe to receive free email updates:

0 Response to "Nikah Di Usia Muda, Why Not?"

Post a Comment