Cara Melihat ALLAH Di Dunia



kompasiana Pertanyaan paling menggoda bagi seluruh umat manusia adalah apakah Allah bisa di lihat di dunia? Atau adakah kemungkinan Allah bisa dilihat di dunia?.

Dalam Islam, bahwa dalam hal melihat Allah ada 3 pendapat yaitu : Allah bisa di lihat di dunia dan akhirat, Allah tak bisa dilihat di dunia tapi bisa disaksikan di akhirat dan Allah tak bisa dilihat di dunia dan akhirat. Ke tiga pendapat itu sama-sama mempunyai mempunyai dalil yang kuat. Kalau keyakinan bahwa Allah tak bisa dilihat sama sekali di dunia ini maka tak ada pertanyaan lebih lanjut, Allah pun akan menguatkan keyakinan tersebut.
Tapi orang yang meyakini bahwa Allah ada kemungkinan bisa dilihat akan muncul pertanyaan berikut, “Bagaimana cara melihat Allah?” atau “Apa rukun dan syarat yang harus dipenuhi agar saya bisa melihat Allah?” atau “Kemana saya berguru agar saya bisa menyaksikan wajah Allah yang Maha Agung?”.
Berikut ada sebuah pendapat yang perlu kita telaah bersama, pendapat yang memberikan keyakinan akan Melihat Allah di dunia dan alasan kenapa manusia pada umumnya tak bisa melihat Allah. Prof. Dr. Muhammad Tahir al-Qadri, ulama Pakistan pendiri Idarah Minhajul Qur’an di Lahore, memiliki kiat untuk bisa “melihat” Allah di dunia. Ia menguraikan makna ihsan secara berbeda dalam bukunya Islamic Philosophy of Human Life.
Ketika malaikat Jibril bertanya tentang Iman dan Islam kepada Rasulullah saw, lalu dijelaskan oleh beliau, Jibril berkata, “anda benar.” Lalu Jibril bertanya lagi, “Apakah ihsan itu?” Rasul menjawab, “Ihsan adalah anda beribadah kepada Allah seolah-olah anda melihat Dia, maka bila anda tak bisa melihat-Nya, sesungguhnya Dia melihat anda.” Jadi, ihsan adalah beribadah dengan merefleksikan sifat Allah, al Bashir, Yang Maha Melihat.
Tetapi bagaimana kita bisa beribadah seolah-olah melihat Dia? Menurut Prof. Tahir al-Qadri, kalimat hadis tadi harusnya dipenggal secara berbeda, bukannya fa in lam takun tarohu, tetapi fa in lam takun, tarohu. Terjemahnya ialah, “Maka bila anda tak ada, anda akan melihat Dia”. Allahu Akbar.

Rupanya penghalang untuk bisa melihat Dia adalah sikap mendewakan diri. Ketika seseorang masih mempertahankan keberadaannya, masih mementingkan eksistensinya, masih mendahulukan kepentingannya, ia tak akan bisa “melihat” Allah. Ia tak akan bisa menghayati kebesaran-Nya. Ia tak akan bisa mengerti keadilan-Nya. Ia tak akan bisa menyaksikan keindahan-Nya. Ia tak akan bisa merasakan kehangatan kasih sayang-Nya.

Maka untuk bisa khusyu’ seolah-olah melihat Dia, kita harus meleburkan diri, menghancurkan diri, bagaikan gunung yang sirna mencair oleh tajalli, cahaya Allah. Semakin larut kita menghampakan diri dalam fana, semakin jelas wajah Allah bagi mata hati kita. Ihsan adalah Zero Mind Process. Lenyapkan dirimu, anda akan “melihat” Allah. Wallahu A’lam.
Pendapat Prof. Dr. Muhammad Tahir al-Qadri ada benarnya, karena alasan utama Musa AS terhalang melihat Allah adalah karena keakuannya, lihatlah cara Musa meminta, “Ya Rabbku, nampakkanlah (diri Engkau) kepadaku, agar aku dapat melihat kepada Engkau”. Rabb berfirman:”anda sekali-kali tak sanggup untuk melihat-Ku, tapi lihatlah ke bukit itu, maka jika ia tetap ditempatnya (sebagai sediakala) niscaya anda dapat melihat-Ku”. Tatkala Rabbnya menampakkan diri kepada gunung itu, dijadikannya gunung itu hancur luluh dan Musapun jatuh pingsan. Maka setelah Musa sadar kembali, dia berkata:”Maha Suci Engkau, aku bertaubat kepada Engkau dan aku orang pertama-tama beriman”. [Al A’raf :143]
Kebanyakan orang yang meyakini bahwa Allah tak bisa dilihat di dunia mengambil ayat di atas dengan cara memotong “anda sekali-kali tak sanggup untuk melihat-Ku”, kemudian menguraikan panjang lebar, bahwa sekelas Nabi Musa saja tak sanggup melihat Allah konon lagi kita, padahal kalau Ayat tersebut di pahami secara utuh disana sangat jelas bahwa Nabi Musa dapat melihat Allah, sehingga spontan Beliau berkata, :”Maha Suci Engkau, aku bertaubat kepada Engkau dan aku orang pertama-tama beriman”.

Allah tak memiliki penghalang sedikitpun, penghalang (hijab) itu ada pada diri manusia, ketika penghalang itu terangkat maka manusia akan bisa menyaksikan wajah-Nya, wajah yang wajib di ingat dalam shalat dan ibadah lain. Ketika penghalang tersebut terangkat barulah manusia benar bersyahadat, menyaksikan keagungan Allah tanpa ada keraguan di hati. Penghalang itu hanya bisa terangkat dengan cara Dzikrullah (mengingat Allah) dengan metode yang telah diajarkan Rasulullah SAW.

Semoga Bermanfaat.



Sumber: islamsejati.com

Subscribe to receive free email updates:

0 Response to "Cara Melihat ALLAH Di Dunia"

Post a Comment