Mampir di Indonesia meninggalkan Janda

"Kalau kamu mau menikah dengan temanku, aku akan memberitahu di mana penampungan itu," ujar Adnan, pencari suaka asal Palestina merayu admin untuk menikah dengan temannya asal Timur Tengah. Dia sedikit banyak tahu para pencari suaka senasib dengannya itu di mana berada. Kepada merdeka.com, Adnan hanya menyebut daerah Desa Citeko, Kabupaten Bogor, Jawa Barat.

Perbincangan dengan Adnan pun mengantarkan admin untuk menelusuri keberadaan para pencari suaka asal Timur Tengah ini hingga ke kawasan Puncak, Kabupaten Bogor, Jawa Barat. Di tempat ini lah, menurut Adnan para pencari suaka itu tinggal berkelompok sambil menunggu kepastian dari kantor United Nations High Commissioner for Refugees (UNHCR) berada di Jakarta.

Sebuah rumah kontrakan mirip komplek di daerah Desa Batu Layang, Kecamatan Cisarua menjadi salah satu tempat dipilih para pencari suaka itu tinggal. Di desa ini, banyak pencari suaka asal Afganistan, Iran dan juga Irak. Bahkan ketika menelusuri keberadaan mereka tak jauh dari Desa Batu Layang, para pencari suaka ini juga mendirikan sekolah untuk anak-anak mereka. Letaknya berada di Ciburial. Hanya sepelempar batu dari Warung Kaleng di Jalan Puncak Raya Kilometer 84.

Zahra, baru saja datang ke rumah kontrakannya di Desa Batu Layang, Kecamatan Cisarua, Kabupaten Bogor. Wanita dengan kulit kuning langsat dan memiliki tinggi sekitar 175 sentimeter itu kebetulan akan mengikuti latihan Bahasa Inggris. Dia mengaku sudah enam tahun ini tinggal di Indonesia. Zahra datang bersama dengan anggota keluarganya. Dia berencana mencari suaka ke Australia.

Meski sudah enam tahun tinggal di Indonesia, Zahra sama sekali tak bisa begitu lancar berbahasa Indonesia. Dia juga tak begitu lancar berbahasa Inggris. "Saya hanya bisa berbahasa Persia, sedikit bahasa Inggris dan tahu arti bahasa Indonesia," kata Zahra dengan ramah saat merdeka.com memperkenalkan diri.

"Aku sangat gerogi di wawancarai kamu," ujarnya dengan bahasa Inggris. Zahra memang memiliki wajah cantik. Hidungnya mancung dan badannya tak terlalu gemuk. Namun dia ramah dan terbuka ketika merdeka.com mewawancarainya.

Ihwal kedatangan Zahra ke Indonesia bermula dari keinginan dia berserta anggota keluarganya untuk mencari suaka ke Australia. Namun, ketika itu negara asalnya, yaitu Iran menolak untuk memberikan visa. Berkat usahanya, akhirnya Zahra mengetahui cara mendapatkan visa itu untuk ke Indonesia. "Saya baru mendapatkan Visa di Bandara," ujarnya. Zahra pun sempat tinggal di Jakarta ketika mengurus segala perizinan untuk mencari suaka ke Australia.

Di tempat bisa dibilang sebagai penampungan ini, tak ada soal kawin kontrak seperti dituturkan oleh Aziz. Namun, di daerah ini, faktanya memang banyak para pencari suaka itu tinggal. Mereka kebanyakan tinggal berkelompok sesama pencari suaka. Ada empat desa dijadikan tempat hunian para suaka sambil menunggu kepastian dari kantor UNHCR di Jakarta.

Adalah Desa Batu Layang, Kampung Sampay, Desa Tugu Utara dan Desa Tugu Selatan menjadi tempat pilihan para pencari suaka itu tinggal. Berdasarkan penuturan Kepala Desa Tugu Utara Asep mengatakan, data terakhir para pencari suaka itu sebanyak 37 orang. Namun seiring waktu berjalan, para pencari suaka ini juga menyasar desa lain. Salah satunya Desa Batu Layang. Maklum di ke empat desa itu memang sudah tersohor dengan sebutan tempatnya orang-orang arab.

Adalah Warung Kaleng, nama disebut-sebut identik dengan pusatnya orang-orang arab di Puncak. Letaknya berada di Jalan Raya Puncak, Kilometer 84. Meski tak seberapa panjang, hanya sekitar 500 meter, Warung Kaleng memang di dominasi oleh nuansa arab. Hampir semua toko-toko di sebelah kiri dan kanan jalan menggunakan aksara arab sebagai nama tokonya. Warung Kaleng sendiri membelah dua desa, yaitu Desa Tugu Utara dan Desa Tugu Selatan.

Sedangkan di bawahnya menuju arah Taman Safari, ada Kampung Sampay dan juga Desa Batu Layang. Di ke empat desa ini, jangan kaget jika para pejalan kakinya juga kebanyakan bukan warga lokal. Hidung mereka mancung-mancung, dan wanitanya juga menggunakan pakaian muslim. Bahkan di dalam mobil pribadi pun yang melintas juga tak kalah, isinya orang-orang berwajah arab. "Kalau yang di jalan kebanyakan pelancong dari Arab Saudi," kata Sri, pedagang kambing saat ditemui merdeka.com tak jauh dari Warung Kaleng.

Kepala Desa Tugu Utara, Asep Mamun Nawawi mengatakan jika sebetulnya kabar soal keberadaan kawin kontrak melibatkan orang-orang asal Timur Tengah dengan wanita lokal memang benar ada. Kebanyakan kata dia, kawin kontrak atau Mutah dilakukan pelancong lelaki asal Arab Saudi bukan oleh pencari suaka. Biasanya, kawin kontrak dilakukan sesuai perjanjian untuk menemani si pelancong selama liburan di daerah Puncak.

Asep pun mencoba meluruskan kabar mengenai isu kawin kontrak kebanyakan berasal dari desanya. Dia menuturkan, jika kebanyakan kawin kontrak dilakukan oleh wanita berasal dari luar Desa Tugu Utara. "Kebanyakan wanita dari luar desa sini. Tetapi setelah menikah, mereka tinggal di sini, jadi seolah-olah warga sini," ujar Asep saat ditemui di kantornya, Jumat pekan lalu. Pelakunya pun menurut Asep bukan gadis. Mereka adalah pelacur dulunya biasa mangkal di kawasan puncak. "Ada oknum yang melakukan itu. Biasanya mereka sudah menyediakan wanitanya. Tetapi kebanyakan baru sehari sudah ditinggal kabur,".

[merdeka.com]

Subscribe to receive free email updates:

0 Response to "Mampir di Indonesia meninggalkan Janda"

Post a Comment